Jaladwara Wisata Arkeologi
Sapa kami :)
  • Beranda
  • Paket Plesir
  • Kiat
  • Blog
  • Kodak
  • Ekspedisi
    • Eksplorasi 2016
    • Ekspedisi Bromo
    • Ekspedisi Lereng Merapi >
      • Manfaat Program
      • Biaya & Proses Pembayaran
      • Syarat & Ketentuan
      • Jadwal
      • FAQ
      • Formulir
      • Jurnal Ekspedisi
  • Program DARING
    • Rahasia di Balik Gambar >
      • Tentang Program
      • Manfaat
      • TESTIMONI
      • PAMERAN KARYA AKHIR
  • Tentang Kami

Kelezatan Mi Bangka di Terminal Muntilan

1/8/2020

0 Comments

 
Picture
Jika lapar sekali, semangkuk mi ayam akan cukup :D
“Namanya dagang ya, ya ga tentu. Kalau pas sepi ya sepi banget,” ujar Tante Ani setelah kami menandaskan semangkuk Mi Bangka racikannya. Mi Bangka di pojok gerbang Terminal Drs. Prajitno, Muntilan, telah beroperasi sejak akhir tahun 1990.
​
Awalnya Tante Ani yang asli Belinyu, Bangka, ini berjualan keliling dengan gerobak selama lima tahun. Lalu garis nasib membawanya untuk menghuni salah satu kios di dalam terminal selama empat tahun. Selanjutnya ia pindah ke tempat yang sekarang ini.

Picture
Dapur mungil tempat Tante Ana dan suaminya meracik mi ayam.
Tante Ani mulai akrab dengan dunia bisnis mi ketika ikut berjualan mi ayam dengan Ii-nya*. Sementara itu, ilmu membuat mi didapat dari mertua cecenya**. Modal pengetahuan itulah yang dibawa bersama suaminya ke Pulau Jawa pada 1997.

Jadi, mi yang disantap di warung Tante Ani ini buatan sendiri lho. Mi dipastikan tanpa pengawet. Komposisinya hanya terigu dengan telur. Teknik pembuatannya juga masih tradisional dengan menggunakan alat yang dikenal sebagai “kethek-kethekan”. Dalam sehari rata-rata Tante Ani dan suaminya membuat mi sekitar 6-7 kg.

Tekstur mi di sini kenyal dengan cita rasa gurih. Kekuatan mi ayam Bangka ini ada pada bumbu minyak bawang putih. Bumbu pada daging ayam sebagai pelengkap mi menambahkan cita rasa gurih, jauh dari rasa manis. Kecap asin cap Gentong yang legendaris asal Jogja jadi pengikat rasa sehingga menghasilkan kolaborasi yang sempurna.

Jika mi-mi yang lain pakai pokcoy atau sawi hijau sebagai sayurnya, maka Tante Ani memilih sawi putih sebagai isian sayurnya. Sebagai pembeda saja. 

Picture
Warung Mi Ayam Bangka milik Tante Ani.
Sebelumnya bahkan menggunakan taoge, seperti mi  ayam Bangka di tempat asalnya. Namun banyak pelanggan merasa aneh dengan keberadaan taoge di dalam mangkuk mi ayam. Akhirnya diputuskan taoge tidak lagi disertakan.

Kami sepakat untuk jatuh hati pada kekuatan rasa mi ayam Bangka racikan Tante Ani.

Saat berkunjung ke sana, jangan lupa juga memesan pangsit goreng yang tak kalah juara rasanya. Pangsit pun hasil buatan sendiri.

Ditambah lagi dengan segelas  es jeruk yang asli jauh dari berpura-pura. Es jeruk biasanya disajikan oleh orang kepercayaan Tante Ani yang sudah ikut sejak beliau membuka usaha ini.

Kios mi ayam yang senantiasa ramai ini buka tiap hari lho.  Hanya tutup di hari Minggu terakhir setiap bulannya.
 
*tante
**kakak perempuan

0 Comments



Leave a Reply.

    Blog Jaladwara

    Halaman ini memuat kisah petualangan Jaladwara. Tak melulu tentang catatan perjalanan trip berbayar melainkan juga pandangan mata saat tim Jaladwara bertualang ke berbagai tempat di Nusantara :)

    Arsip

    March 2021
    February 2021
    January 2020
    November 2019
    October 2019
    June 2016
    April 2016
    December 2015
    July 2015
    June 2015
    April 2015
    March 2015
    December 2014
    November 2014
    January 2014
    December 2013
    November 2013
    April 2013
    February 2013
    August 2012
    March 2012
    February 2012
    January 2012
    November 2011
    October 2011
    August 2011

    Kategori

    All
    Acara
    Catatan Perjalanan
    Etika Berwisata
    Jawa
    Kesan Pesan
    Kuliner
    Museum
    Opini
    Sumatera

    RSS Feed

Powered by Create your own unique website with customizable templates.