Jaladwara Wisata Arkeologi
Sapa kami :)
  • Beranda
  • Paket Plesir
  • Kiat
  • Blog
  • Kodak
  • Ekspedisi
    • Eksplorasi 2016
    • Ekspedisi Bromo
    • Ekspedisi Lereng Merapi >
      • Manfaat Program
      • Biaya & Proses Pembayaran
      • Syarat & Ketentuan
      • Jadwal
      • FAQ
      • Formulir
      • Jurnal Ekspedisi
  • Program DARING
    • Rahasia di Balik Gambar >
      • Tentang Program
      • Manfaat
      • TESTIMONI
      • PAMERAN KARYA AKHIR
  • Tentang Kami

ULAS MUSEUM: MUSEUM MARITIM INDONESIA

3/12/2021

0 Comments

 
Picture
Tinggalan kapal tenggelam. Sayangnya tak ada informasi yang disajikan saat tur virtual mengenai tinggalan ini.
Seperti apa potret dunia maritim Indonesia ditampilkan dalam sebuah museum?

Museum Maritim Indonesia sudah masuk dalam daftar kunjung pada 2020. Tapi sayangnya, pandemi datang. Untungnya pihak museum gercep menyediakan layanan tur virtual mandiri untuk publik. Jadi, meskipun belum singgah langsung, setidaknya bisa sedikit menikmati koleksi yang dipamerkan.

Ada dua ruang yang dapat kita jelajahi. Kami bergerak ke sayap timur karena jika tidak mengakses info denah maka secara otomatis kita dibawa ke sana terlebih dahulu.Di ruang ini ada sekitar 17 "titik" pemberhentian. Kami berjumpa dengan isi Deklarasi Djuanda (13 Des 1957). Teringat pada obrolan bersama Kang Parid dari KIARA. Deklarasi inilah yang menjamin keutuhan Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan.

Kami juga diajak mampir ke beberapa pelabuhan lama, seperti Pelabuhan Belawan, Teluk Bayur, Sunda Kelapa, Onrust, Cirebon, Tanjung Perak, dan Tanjung Mas. Rata-rata menampilkan lini masa sejarah pelabuhan. Meskipun beberapa menyebutkan peran penting pelabuhan itu di masa lampau. Misalnya saja Pelabuhan Teluk Bayur yang dulu bernama Emmahaven sebagai pintu keluar batu bara dari Ombilin menuju Eropa.
Picture
Interior museum. Pencahayaannya hangat, jauh dari kesan seram.
​Ada satu titik yang membuat kami merasakan kunjungan langsung di museum. Video yang diputar di layar besar tentang Perang Makassar (1660-1669) menggema di telinga. Cukup mengobati rasa kangen sih.

Bagian yang menarik lainnya ialah ketika kami diajak masuk ke dalam peti kemas. Wah, jika kunjungan langsung tampaknya bagian ini jadi salah satu favorit kami nih. Di dalamnya kita bisa lihat ilustrasi irisan kapal yang menunjukkan alokasi penyimpanan barang-barang di dalam kapal. Jadi, dapat gambaran di mana rempah atau kayu disimpan.

Di sayap barat, ada 19 "titik" pemberhentian. Bermula dari peta migrasi austronesia lalu cerita bagaimana orang-orang Eropa berdagang rempah (pala dan cengkeh) langsung dengan orang lokal. Lalu kembali lagi ke pelabuhan-pelabuhan masa awal Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Di antaranya terselip relief kapal Borobudur untuk menunjukkan teknologi perkapalan masa Mataram Kuno. Navigasi kemudian bergeser ke pelabuhan-pelabuhan masa Islam hingga masuknya pengaruh orang-orang Eropa yang diwakili oleh VOC. Kunjungan di sayap barat diakhiri dengan diorama aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan.
Picture
Nih, kebayang kalau berkunjung langsung, bakal lama di depan peta ini.
​Secara umum sajian virtual di Museum Maritim Indonesia cukup menyenangkan. Tata visualnya menarik, baru, mengingatkan pada gaya penyajian di Museum Bank Indonesia. Secara teknis ga bikin pusing karena sudah ada panah-panah untuk diklik dan mengantarkan kita ke titik-titik pemberhentian. Juga ada video yang menambah warna.

Namun, kekurangan dari sajian virtual ini ialah kita tidak bisa kembali ke titik sebelumnya. Misal nih, ingin membaca ulang label sebelumnya untuk mencari relasi dengan label yang saat ini dibaca. Alur ceritanya di beberapa titik masih terasa lompat. Misal, dari transaksi pala bersama orang Eropa ke Sriwijaya.

Label yang ditampilkan juga masih terlampau umum. Rata-rata bercerita tentang lini masa. Kebanyakan bersifat deskriptif. Narasi tentang VOC disajikan dengan nada sangat netral. Intinya, setelah melakukan praktik dagangnya, VOC menjadi perusahaan multinasional dengan aset terbanyak sepanjang sejarah. Padahal terselip harapan bahwa pihak museum menampilkan narasi yang lebih menggugah dan mengajak pengunjung untuk berpikir. Misal, sistem dan praktik dagang seperti apa yang dibangun VOC sehingga mendatangkan keuntungan fantastis pada eranya?

Namun demikian, kunjungan virtual di Museum Maritim Indonesia ini dapat memberikan perspektif baru bagi kami. Terutama tentang bagaimana cara museum mempermudah kunjungan virtual untuk para pengunjungnya. Meskipun tanpa menawarkan subtema-subtema tertentu. Tetap patut dikunjungi!
0 Comments

kelana maya tahap 2: Kisah dari aruna.id

2/2/2021

0 Comments

 
Picture
​

Pembicara berikutnya di pertemuan daring malam itu (Kamis, 210121), yaitu Kak Utari dari Aruna.id

Bagi yang bergiat di sektor perikanan mungkin sudah tak asing dengan nama Aruna.id. Sebuah 'start up' yang dirintis Kak Utari bersama kedua rekannya pada 2016.

Kak Utari sendiri lahir dan besar sebagai anak nelayan di pesisir Balikpapan, Kalimantan Timur. Pengalaman hidupnya menginspirasi untuk berbuat sesuatu bagi kehidupan nelayan.

Misi aruna.id: "Ingin menjadikan laut sebagai sumber kehidupan yang lebih baik bagi semuanya."

Yang membedakannya dengan perusahaan lainnya, aruna.id menggunakan teknologi untuk memasarkan hasil laut. Teknologi membantu untuk menghubungkan nelayan dengan pembeli skala besar, seperti pabrik, perusahaan ekspor, supermarket, restoran, dsb. Tidak hanya di dalam negeri, pasar aruna.id juga mencakup AS, Cina, Inggris, Singapura, dsb.

Dengan menggunakan teknologi, aruna.id memangkas rantai panjang penjualan ikan dari nelayan hingga ke tangan pembeli. Manfaat ekonomi yang biasanya hanya dinikmati oleh pengusaha yang langsung berhubungan dengan pembeli skala besar, kini bisa dinikmati oleh para nelayan.

Pendapatan nelayan yang sebelumnya +- Rp 1,5 juta/bulan, kini bisa meningkat jadi Rp 3,5 juta bahkan hingga Rp 15 juta/bulan

Penggunaan teknologi juga memungkinkan para pembeli bisa melacak lokasi tangkap hasil laut dan alat tangkap yang digunakan. Dengan begitu, kelestarian sumber daya laut tetap terjaga.

Hal inspiratif yang diupayakan aruna.id, yaitu mereka tidak hanya memasarkan, tapi juga melakukan pemberdayaan masyarakat pesisir. Caranya?

Nelayan diedukasi dan didorong untuk melaut dengan  menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan & tidak menangkap berlebihan, agar keberlanjutan ekosistem laut tetap terjaga 

Para ibu dilatih untuk memproses ikan yang sudah ditangkap agar siap untuk dikirim. Sementara anak muda diajak bergabung menjadi 'Local Heroes' untuk membantu nelayan menggunakan teknologi saat melaporkan hasil tangkapan dan membina komunitas nelayan di desa tersebut.

Inisiatif "Local Heroes" menggerakkan anak-anak muda untuk berkiprah, membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kampungnya. 

Batin kami pun berbisik,"Hmm..ini perusahaan atau LSM ya?"  

Saat sesi pertanyaan, banyak pertanyaan seru yang dilontarkan peserta. Antara lain:

"Seberapa penting sih data untuk nelayan?"

Penting banget. Sayangnya di Indonesia ada banyak data tapi belum ada jembatan untuk mengkomunikasikannya ke nelayan. Untuk apa gunanya data "jumlah ekspor ikan" bagi nelayan?

Perlu diubah penyampaiannya, misal "Pak, ikan yang sekarang laku di pasar bukan krapu merah, tapi krapu bintik." Dengan begitu, data lebih bermanfaat bagi nelayan. Dan itu peran Local Heroes, yaitu menerjemahkan data yang ada di aplikasi kepada nelayan.

"Dulu waktu bikin aruna.id, pakai riset dulu ga kak?" Pertama riset pakai internet. Kedua, selama 3 bulan 'live in' di rumah nelayan di Ujung Genteng, Jabar. Tujuannya untuk ngobrol dan paham permasalahan nelayan. Ternyata masalah nelayan kompleks. Dan mereka butuh solusi yang 'simple'.

"Ada gesekan gak dengan rentenir?" Tentu saja ada. Di beberapa lokasi, rentenir yang juga berperan sebagai pengepul, diajak bekerja sama untuk berperan sebagai tim 'quality control'.

Menurut Kak Utari, sejak di bangku sekolah, ia ingin bisa berbuat sesuatu bagi kampungnya. Namun baru saat kuliah mulai terbayang apa yang ingin ia lakukan. Hingga lahirlah aruna.id

Jadi Kak Utari berangkat dari mengenali permasalahan yang ada di sekitarnya,  baru kemudian memikirkan bentuk solusinya. "Yang penting tahu solusinya dulu, teknologi baru menyusul belakangan," tegas Kak Utari.

Wahh, mendadak jadi teringat dengan program-program 'smart city' yang seringkali mengutamakan aplikasi 'smart phone' daripada mengenali akar masalahnya  

Apakah kalian termasuk remaja yang ingin berbuat sesuatu bagi tempat tinggalmu? Kalian bisa mengikuti jejak Kak Utari lho dengan mengenali permasalahannya terlebih dahulu. 

Terima kasih Kak Utari sudah berbagi bersama kami. Sampai jumpa di lain kesempatan.
0 Comments

Berkunjung ke Museum HAM Pertama di Indonesia (bag. 2)

1/26/2020

0 Comments

 
Museum HAM Omah Munir sudah hadir sejak 2013. Entah sudah berapa banyak kepala yang terbuka pikirannya selepas keluar dari museum ini. Saya tak sempat bertanya mengenai total pengunjung selama enam tahun lebih beroperasi. Tapi saya yakin bahwa informasi yang disampaikan museum punya dampak terhadap pengunjung meskipun belum ada riset khusus untuk mengujinya.

Meski demikian, bagi saya Museum HAM Omah Munir ini keberadaannya baru saya ketahui belakangan ini. Saat itu saya hendak plesir ke Malang. Seperti biasa, saya selalu mencari museum menarik yang bisa masuk daftar kunjungan. Maka jadilah saya mampir ke sini.

Setelah berkeliling hampir satu jam di ruangan kecil museum, emosi saya bergejolak. Saya –masih- marah terhadap kondisi penegakan HAM di negara ini. Juga kesal karena merasa tak dapat berbuat banyak. Saya larut dalam narasi yang disajikan oleh museum.

Lantas, saya tak begitu mempermasalahkan hal-hal teknis seperti tata pamer ataupun label. Wong saya sudah paham pesan yang ingin disampaikan museum. Itu sudah cukup. Namun, bagaimana dengan pengunjung awam yang belum terpapar isu yang diangkat oleh museum? Saya akan ulas beberapa hal teknis yang sempat teramati ketika kunjungan pertama ke Museum HAM Omah Munir pada 21 Januari 2020.

Urusan yang Nampak Remeh Bernama Label
​

Untuk urusan teknis saya punya beberapa catatan. Mulai dari hal yang paling dasar, yaitu label. Label di Museum HAM Omah Munir masih menggunakan kalimat-kalimat panjang. Sebagian besar dibangun dengan spasi baris yang terlalu rapat. Jika adik saya yang baca pastilah dia sudah mundur teratur karena punya masalah mata silinder.

Terlebih untuk Aceh Corner yang punya banyak informasi namun ditampilkan dalam bentuk paragraf panjang yang lengket satu sama lain. Penempatan panil pun tidak sesuai dengan level mata pengunjung. Pengunjung harus mendongak dan berjongkok untuk membaca informasi mengenai peristiwa-peristiwa penting pelanggaran HAM di Aceh.
​
Picture
Jarak spasi antar kalimat yang terlalu rapat (kiri). Pengunjung membaca informasi panil dengan posisi jongkok (kanan).
Bagi para pengunjung dengan minat baca rendah, informasi berharga yang ingin disampaikan museum tentu saja punya perjuangan tersendiri agar mereka tertarik untuk membaca . Rangkaian kata-kata itu semestinya dapat lebih disederhanakan lagi dengan teknik interpretasi. Sebuah teknik yang digunakan untuk menerjemahkan bahasa rumit khas para ahli atau akademisi menjadi bahasa yang lebih dimengerti oleh awam. Teknik ini sejatinya merupakan metode mengkomunikasikan pesan kepada pengunjung dengan cara yang lebih menyenangkan dan dapat dinikmati.

Informasi menarik yang merupakan data penting itu harusnya sudah berubah bentuk jadi sesuatu yang lebih mudah dicerna oleh awam. Hal ini penting, mengingat tujuan Museum HAM Omah Munir sebagai media untuk menyebarluaskan pengetahuan HAM di Indonesia.

Semakin sederhana pilihan kata yang digunakan, semakin mudah untuk awam mencernanya. Buatlah label seperti membuat cuitan dengan pakem Twitter. Ini jadi tantangan tersendiri bagi pihak museum untuk membumikan masalah-masalah HAM yang seringkali menggunakan bahasa tinggi.
Penyajian informasi melalui media infografik juga menarik untuk diterapkan. Misalnya saja, pembunuhan Munir di udara yang saat ini disajikan lewat lini masa diganti bentuknya ke dalam format infografik.

Begitu juga informasi panjang mengenai Marsinah misalnya. Secara umum, pengunjung lebih menyukai tampilan visual ketimbang teks. Barisan kata-kata dalam panil dapat diselingi dengan bentuk-bentuk ilustrasi, diagram, infografik, atau peta.

Koleksi memorabilia Cak Munir juga belum banyak disampaikan dalam rupa label interpretatif. Sebagian besar masih berupa label noninterpretatif.

Misal saja, skripsi Cak Munir sebagai syarat kelulusan dari Fakultas UB. Alangkah menarik jika disampaikan sedikit kisah di balik skripsi itu. Misal, ringkasan super singkatnya. Yang padat dan penuh makna.

Sifat Cak Munir yang sederhana yang tercermin dari koleksi sepatunya, misalnya. Dapat dibubuhkan label pertanyaan untuk direlasikan ke pengunjung. “Berapa banyak sepatu yang kamu beli dalam dua tahun terakhir?” Atau pertanyaan-pertanyaan yang kembali ke diri pengunjung. Jadi, pengunjung tak menerima doktrin tentang kesederhaaan hidup Cak Munir. Melainkan, diajak untuk merefleksikan pola hidupnya selama ini. 
Picture
Contoh label di Museum Dewantara Kirtigriya yang mengajak pengunjung mencoba menggunakan koleksi serta membandingkan dengan objek sama di masa kini.

Mengajak Pengunjung  Berinteraksi dengan Koleksi Museum


Tak hanya terjadi di Museum HAM Omah Munir jika terkait tingkat interaksi museum dengan pengunjung. Saya pikir museum yang berorientasi pengunjung masih terhitung langka di Indonesia. Sebagian besar masih sibuk dengan ego instansi. Atau sibuk dibuai dengan ide-ide pelibatan “teknologi tinggi” dengan materi yang seringkali tidak kontekstual, bahkan tak punya muatan.

Padahal banyak koleksi museum yang belum ditampilkan kisahnya oleh museum. Sehingga ketika ada keterangan yang disajikan, justru mengundang pertanyaan balik dari pengunjung seperti, “Oke, sudah tahu, setelah itu apa?”

Penggunaan label interpretatif dengan teknik “bertanya” mungkin bisa coba diterapkan. Tentu saja pertanyaan itu bukan pertanyaan yang tak bisa ditemui jawabannya di dalam museum. Pengunjung juga akan malas jika pertanyaan terlampau sulit atau terlalu mudah. Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat reflektif dapat dicantumkan di beberapa panil atau koleksi memorabilia.

Meskipun termasuk teknik yang paling mudah diterapkan untuk melibatkan pengunjung dalam tata pamer, namun penggunaan teknik ini juga tak baik jika terlalu banyak dilontarkan. Secukupnya saja.
Picture
Salah satu label pertanyaan di Museum Dewantara Kirtigriya, Yogyakarta.

Selanjutnya, media Talk Back atau bahasa mudahnya dinding “pesan dan kesan” atau “komentar” dapat digunakan untuk mengumpulkan persepsi pengunjung. Persepsi tentang apa? Tergantung pihak museum ingin menggali persepesi tentang apa dari pengunjung.

Jadi, museum tidak lagi menyodorkan buku kosong yang mengarahkan pengunjung untuk menuliskan pesan dan kesannya. Persepsi pengunjung dikumpulkan dengan mengajukan pertanyaan spesifik.  Misal, “Hal apa yang kamu pelajari dari perjuangan Cak Munir?” atau “Bagaimana kamu dapat berpartisipasi dalam perjuangan menegakkan HAM di Indonesia?”


Picture
Dinding "pesan & kesan" yang tidak disertai pertanyaan spesifik akan berujung pada komentar tak sesuai konten pameran.
Museum dapat juga memberikan ruang untuk pengunjung menyampaikan pemikirannya tentang Cak Munir lewat surat pendek di atas kertas berukuran 10 x 10cm. Di sini pengunjung dapat berimajinasi seoalah-olah berkomunikasi dengan Cak Munir lewat surat.

Untuk keperluan ini, pihak museum hanya perlu menyediakan satu dinding kecil untuk pengunjung menempelkan atau menggantungkan jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh pihak museum. Semakin spesifik pertanyaannya maka akan semakin bagus data yang diperoleh. Data ini akan sangat berguna untuk memberi masukan akan konten di museum baru yang akan dibangun nanti.
Picture
Salah satu contoh surat untuk masa lalu dalam program "Mencari Harta Karun di Malioboro". Peserta program diajak untuk mencurahkan pendapatnya tentang kota lewat surat kepada Sri Sultan HB I.
Teknik “hal terfavorit” juga bisa ditanyakan kepada pengunjung. Tema yang mana yang paling disukai oleh pengunjung selama menikmati tata pamer di dalam museum. Sistem peringkat itu juga bisa menjadi modal awal untuk menggali lebih dalam tema yang disukai pengunjung.

Dinding yang menampilkan wajah para aktivis yang hilang jelang reformasi memang sudah sangat kuat menyentuh aspek emosional. Namun, jika bisa bermain-main dengan teknik flip panels sepertinya menarik juga.

Dari deretan wajah para aktivis yang dimuralkan, mungkin bagi awam hanya wajah Wiji Thukul yang populer. Bagaimana dengan figur lainnya. Pihak museum dapat membuat instalasi sederhana berupa flip panels. Jika ingin dibarengi label pertanyaan, bisa terkait dengan misalnya isu yang diperjuangkan para aktivis itu atau latar belakang mereka. 
Picture
Salah satu contoh flip panels yang sangat sederhana di Museum Filateli Singapura.
Beberapa layar LED yang menempel di dinding tampaknya bisa dioptimalkan lagi fungsinya. Misal, layar di dekat Aceh Corner. Jika masih ada rekaman ketika Cak Munir pidato, bisa jadi materi yang didengarkan oleh pengunjung. Tentu saja dengan bantuan headset agar tak mengganggu konsentrasi pengunjung menikmati tata pamer lainnya.

Lantas bagaimana dengan media interaktif lainnya? Mungkin untuk sementara label dengan teknik pertanyaan yang paling mungkin untuk diterapkan. Sementara media-media audio visual lainnya lebih memungkinkan untuk dipasang di museum baru yang gedungnya sedang dalam proses pembangunan . Tentu saja jika media audio visual itu hadir harus dilengkapi dengan “instruksi” yang jelas. Misal, “Tekan untuk mendengarkan testimoni para aktivis”. Lagi-lagi pola komunikasi ini perlu dibangun untuk menginformasikan pengunjung apa yang akan mereka dengar atau lihat. Juga berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menonton satu video atau rekaman suara.
Tema dalam Denah

Mungkin karena Museum HAM Omah Munir punya keterbatasan ruang pamer maka alur cerita museum tidak terlalu terlihat. Biasanya alur ini muncul dalam denah museum. Pengunjung jadi punya gambaran ketika masuk museum, apakah akan mengeksplorasi semua tema atau hanya beberapa tema saja.

Jika masih memungkinkan alur cerita Museum HAM Omah Munir bisa ditampilkan ke pengunjung di bagian awal. Tak perlu desain yang mewah. Cukup denah sederhana berdasarkan koleksi yang dipamerkan saat ini. Misal, tema tentang “Biografi Munir”, “Perjalanan Karir Munir”, “Kasus-kasus yang Ditangani Munir”, “Memorabilia Munir”, dan lain sebagainya.

Alur yang jelas membantu pengunjung menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh museum. Denah yang menampilkan tema-tema dalam ruang koleksi ini memandu agar pesan itu dapat diterima oleh pengunjung. 
Picture
Contoh display denah di Museum Panji, Malang.
Dwi Bahasa, Perlu Kah?

Saya menceritakan kunjungan ke Museum HAM Omah Munir ke seorang turis asal Turki yang menginap di tempat yang sama dengan saya. Mendengar latar seorang Munir, ia pun tertarik untuk berkunjung ke sana.

Namun, sebelum membuat rute perjalanan ia memastikan mengenai bahasa yang digunakan oleh museum. “Jika itu hanya dalam bahasa Indonesia maka percuma saya ke sana. Saya tak akan mengerti apapun,” komentarnya.

Untuk saat ini memang masih ada keterbatasan dalam bahasa yang ditampilkan dalam label. Namun, untuk sementara pihak museum masih bisa menyiasatinya dengan menyediakan pemandu. Tentu saja informasi tersebut harus disebarluaskan agar turis-turis asing yang transit di Malang bisa turut terpapar informasi mengenai perjuangan HAM di Indonesia khususnya yang dilakukan oleh Cak Munir.
Menolak Lupa
​

Museum HAM Omah Munir mungkin jadi satu-satunya museum di Indonesia yang mengangkat isu HAM. Kehadiran museum ini menjadi oase di tengah-tengah himpitan narasi arus utama dari negara yang kian menjadi-jadi.

Pelanggaran HAM yang terjadi di banyak tempat setiap hari seakan jadi tontonan yang wajar bagi orang-orang di negara ini. Sudah biasa pemandangan penggusuran tanah atas nama pembangunan. Hal-hal yang sudah dianggap biasa itu menjadikan penggusuran, “penghilangan” –nyawa- manusia, penculikan, persekusi, atau penindasan terhadap manusia adalah hal lumrah. Sebagian besar dari kita mungkin berpikir tidak ada yang salah dengan peristiwa itu. Yang terpenting perut masih bisa terisi dan kepentingan pribadi tidak terganggu.
Picture
Kutipan salah satu pidato Cak Munir.
Museum HAM Omah Munir menjadi media alternatif bagi awam untuk mempelajari seluk-beluk HAM beserta pelanggaran-pelanggaran yang terjadi atasnya. Tentu saja saya menaruh harap yang besar bahwa museum ini dapat menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar HAM. Sebuah tempat yang membumi dan punya konektivitas dengan tiap pengunjung yang hadir. Sebuah tempat yang menguatkan perjuangan yang sedang dijalani, apapun bidangnya, untuk tidak takut terhadap kebenaran yang diyakini.

Kembali lagi ke tujuan awal Museum HAM Omah Munir didirikan. Tampilan yang menyenangkan bukan jadi satu-satunya kriteria untuk museum yang berhasil. Terlebih jika museum mengusung misi edukasi. Yang paling utama ialah pengunjung mampu memahami apa yang disajikan dan menangkap konteks dari seluruh materi pameran. 
0 Comments

Berkunjung ke Museum HAM Pertama di Indonesia (bag. 1)

1/26/2020

0 Comments

 
Picture
Pembuka di Museum HAM Omah Munir.
Sesak. Itu yang saya rasakan ketika memasuki ruangan Museum HAM Omah Munir. Perasaan yang muncul sama persis saat saya menonton “Kiri Hijau Kanan Merah” buatan WatchDoc pada 2016 silam.

Di ruangan berukuran kecil ini dipajang beberapa memorabilia tentang Munir seperti meja, sepatu, baju-baju, rompi anti peluru, tanda identitas (termasuk paspor dan visa), serta skripsi saat menuntaskan kuliah hukum di Universitas Brawijaya.

Tanpa mengikuti alur pengunjung, saya membaca satu per satu informasi yang ditampilkan dalam panil-panil. Beberapa korban pelanggaran HAM yang didampingi Cak Munir ditampilkan di sini. Tentu saja dengan beberapa bentuk penyajian. 

Picture
Patung wajah Marsinah.
Marsinah tampaknya mendapatkan sorotan cukup penting untuk kasus yang mengantarkan Cak Munir dalam perjuangan penegakan HAM yang lebih berat lagi. Pihak museum merepresentasikan kehadiran Marsinah dalam sesosok patung wajah. Ia punya nilai yang setara dengan Cak Munir yang juga dibuatkan patung wajahnya.
​
Sementara itu kasus pelanggaran HAM di Aceh dikupas cukup mendalam. Meskipun juga disinggung kasus-kasus pelanggaran di beberapa tempat yang lain seperti Timor Leste dan kasus petani di Nipah.
Picture
Mural para aktivis yang "dihilangkan" jelang Reformasi.
Mural wajah tokoh-tokoh yang “dihilangkan” jelang era reformasi menjadi magnet yang cukup kuat untuk mengaduk emosi. Apalagi memandang satu per satu wajah mereka sembari mendengar lantunan lagu “Di Udara” oleh Efek Rumah Kaca yang diputar berulang, memenuhi ruangan kecil itu.

Ada yang menusuk saat melihat lini masa proses “penghilangan” nyawa Munir di udara. Lini masa itu ditampilkan lewat poster dan media video garapan TEMPO. Dua-duanya memberikan efek yang sama bagi saya. Jujur saja saya harus menahan agar tak ada setetes air mata pun yang jatuh saat memahami alur waktunya.
​
“Gila ya, informasi ini sudah pernah saya baca berulang kali, tetap saja sulit untuk kontrol emosi,” batin saya. Begitulah, saya selalu merasa tak berarti jika melihat perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh teman-teman aktivis HAM ini.
Picture
Kronologi "penghilangan" nyawa Cak Munir.
Setelah berkeliling museum yang terdiri hanya dari satu ruang pamer ini, saya membutuhkan beberapa saat untuk mengolah informasi di luar sisi materi. Menurut saya materi yang disajikan oleh pihak museum sudah sangat bagus.

Meskipun ada beberapa hal yang dapat direduksi agar tak disajikan berulang seperti perjalanan awal karir Munir di bidang hukum. Atau bisa jadi pihak museum ingin memberikan penekanan terhadap hal tersebut.
​
Namun begitu, saya dapat menikmati sajian museum karena sudah punya ketertarikan dengan isu yang diangkat. Saya sangat beruntung karena sudah terpapar isu HAM ini beberapa tahun yang lalu. Jadi, tak ada muncul rasa keberatan untuk melahap barisan kata-kata yang dipajang di dinding dalam panil-panil besar dan kecil itu. 
Picture
Kartu identitas yang dimiliki oleh Cak Munir.
Lantas, bagaimana dengan pengunjung umum yang tak punya akses informasi tentang Cak Munir atau tumpukan masalah HAM di Indonesia? Atau pengunjung yang masih termakan narasi arus utama? Atau pengunjung dengan minat umum yang tak sengaja nyasar ke Omah Munir?

Apakah kategori pengunjung awam tersebut bisa mendapatkan semangat “menolak lupa” atas pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara? Apakah Omah Munir dapat memberikan pengalaman yang membenturkan  nurani tiap pengunjung terhadap kondisi HAM di Indonesia saat ini? Atau bahkan, apakah museum berhasil menularkan spirit Munir dan para pejuang HAM dalam memperjuangkan ketidakadilan.

Hal tersebut sangat mungkin jadi bahan pengamatan pengelola museum terhadap respon tiap pengunjung yang datang, untuk tahu sejauh mana dampak museum Omah Munir.

Selanjutnya:
Berkunjung ke Museum Ham Pertama di Indonesia (Bag. 2)

0 Comments

Mengisi Tenaga di Sop Empal Bu Haryoko

1/8/2020

0 Comments

 
Picture
Sup empal dengan perpaduan rasa yang sempurna.
Memang sudah kami niatkan untuk bertandang sejenak ke Muntilan hari itu (12/11). Tepat sesaat sebelum musim hujan tiba. Dengan bis Cemara Tunggal kami meluncur ke kota kecamatan yang seringkali hanya dilewati saja saat menuju area Borobudur atau Desa Sumber.

Sebuah warung di samping (sisi selatan) Kelenteng Hok An Kiong menjadi target pertama untuk mengisi tenaga. Mungkin sebuah sarapan pagi yang terlalu berat. Namun setelah dilakoni tak seberat itu karena kami memilih berbagi porsi. Dua porsi untuk kami berempat.

Picture
Porsi empal yang royal.
Saat dua porsi sup empal sampai di meja, kami agak kaget. Kami takjub dengan porsi daging empal yang royal. Berbeda jauh dengan empal legendaris di Jogja.

Karena namanya ‘sop empal’, maka teman makan empalnya ialah sup. Sepiring nasi, sejumput bihun, beserta kuah sup yang segar dan sedap, meskipun rasa vetsin masih  terasa. Daging empalnya begitu lembut berbalut rasa manis dan gurih. Manis empal sungguh pas tak berlebihan. Lalu ada sambal juga sebagai pelengkap. Nah, ketika ketiga elemen ini bersatu maka terciptalah perpaduan rasa yang sempurna. Tidak ada rasa yang mendominasi. Semua tampil seimbang. 
Picture
Warung Sop Empal Bu Haryoko tepat di samping Kelenteng Hok An Kiong.
Namun sayangnya, rasa bahagia setelah menyantap sup empal harus sedikit ternoda. Pasalnya beberapa pengunjung tampak meninggalkan piring-piring dengan sisa daging yang terbilang banyak. Sungguh disayangkan. 
0 Comments
<<Previous

    Blog Jaladwara

    Halaman ini memuat kisah petualangan Jaladwara. Tak melulu tentang catatan perjalanan trip berbayar melainkan juga pandangan mata saat tim Jaladwara bertualang ke berbagai tempat di Nusantara :)

    Arsip

    March 2021
    February 2021
    January 2020
    November 2019
    October 2019
    June 2016
    April 2016
    December 2015
    July 2015
    June 2015
    April 2015
    March 2015
    December 2014
    November 2014
    January 2014
    December 2013
    November 2013
    April 2013
    February 2013
    August 2012
    March 2012
    February 2012
    January 2012
    November 2011
    October 2011
    August 2011

    Kategori

    All
    Acara
    Catatan Perjalanan
    Etika Berwisata
    Jawa
    Kesan Pesan
    Kuliner
    Museum
    Opini
    Sumatera

    RSS Feed

Powered by Create your own unique website with customizable templates.